AMAL YANG BAIK BISA RUSAK KARENA RIYA'

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
لَاتَرْحَلْ مِنْ كوْنٍ اِلٰى كَوْنٍ فَتَكُوْنَ كَحِمَارِ اۤلرَّحَا يَسِيْرُ وَاْلمَكَانُ الذِىْ اِرْتَحَلَ اِلَيْهِ هُوَالَّذِىْ اِرْتَحَلَ مِنْهُ وَلٰكِنْ اَرْحَلْ مِنَ اْلاَكْوَانِ مِنَ اْلمُكَوِّنِ وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ اْلمُنْتَهٰى.
”Janganlah kalian berjalan dari satu situasi kepada situasi lain, agar kalian tidak seperti keledai penggilingan. Ia berjalan, tetapi jalan yang dilaluinya adalah jalan yang sudah dilewati. Tetapi berangkatlah dari situasi ke arah yang menciptakan situasi. Sesungguhnya kepada Tuhan jua berakhirnya semua persoalan.”
Barangsiapa yang berbuat amal kebaikan, maka hendaknya mereka menyandarkan perbuatannya itu semata-mata karena Allah, dan bukan karena yang lain termasuk juga karena mengharapkan syurga. Karena syurga itu sendiri adalah juga merupakan makhluk Allah. Padahal sesuatu amal yang ditujukan kepada selain Allah, sekali-kali amal itu tidak akan sampai kepada-Nya, bahkan akan sia-sia dan mendatangkan siksa.
Dalam hal ini, Rasûlullâh ﷺ pernah bersabda, sebagaimana yang tersebut dalam hadits riwayat Imam Ahmad, yang artinya: “Sesungguhnya yang paling aku takuti atasmu ialah syirik kecil, ialah riya' (beribadah bukan karena Allah semata tapi untuk dilihat orang). “
Kemudian daripada itu, untuk menghindarkan diri dari perbuatan riya', kita harus menanamkan sifat ikhlas sebelum beramal. Adapun perbedaan antara ikhlas dengan riya’, adalah seperti yang pernah di terangkan oleh Al-Harits Al-Muhasiby dalam bukunya “Al-Riaayah“, sebagai berikut:
Ikhlas itu ialah anda menuju Tuhan dengan mentaatinya, tidak ada yang di kehendakinya selain-Nya, adapun riya' itu terbagi dua macam pertama, mentaati Allah karena manusia. Kedua, tujuannya manusia dan Tuhannya manusia, kedua-duanya termasuk amal“.
