BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
اِنْ لَمْ تُحْسِـنْ ظَنَّكَ بِهِ لِأَجْلِ حُسٔـنِ وَصْفِـهِ فَحَسِّـنْ ظَنَّكَ بِهِ لِوُجُوْدِ مُعَامَلَتِهِ مَعَـكَ ، فَهَـلْ عَوَّدَكَ اِلَّا حَسَتًا وَهَلْ اَسْـدٰى اِلَيْكَ اِلَّا مِنَنًـا.
“Jika kamu tidak berbaik sangka kepada Allah karena sifat-Nya yang baik itu, maka berbaik sangkalah kamu kepada-Nya karena nikmat yang telah dilimpahkan kepadamu. Maka tidaklah Dia membiasakan kepadamu melainkan kebaikan. Dan tidaklah Dia mengenakan kepadamu melainkan berbagai macam pemberian.“
Kita semua tentu telah tahu dan yaqin, bahwa Allah itu mempunyai sifat Rohman dan Rohim (Pengasih dan Penyayang). Dengan sifat Rohman-Nya, Dia memberikan karunia yang begitu besar kepada hamba-Nya, baik yang beriman maupun yang kafir. Sedangkan sifat Rohim-Nya hanya Dia berikan kepada hamba-Nya yang beriman dan taqwa di akhirat nanti.
Dengan mengingat nikmat yang begitu besar tersebut, sebagai hamba yang beriman sudah seharusnya apabila kita senantiasa berbaik sangka kepada-Nya. Dan jangan sekali-kali kita menyamakan diri kita dengan orang kafir, yang apabila ditimpa kesusahan mereka akan mengatakan: “Wahai, celakalah kami, Allah sudah bosan sehingga tidak memperdulikan kami“. Padahal sebenarnya sudah tidak terhitung lagi nikmat Allah yang sudah diberikan kepadanya.“
Adapun berbaik sangka kepada Allah itu terbagi menjadi dua, yakni:
- Berbaik sangka dari golongan khos atau tertentu, seperti orang-orang sholeh yang beriman dan taqwa.
Apabila mereka-mereka itu mengalami sesuatu hal, baik menyenangkan maupun menyusahkan, maka akan bertambah cinta dan tawakkalnya kepada Allah. - Berbaik sangka dari golongan orang awam (umum).
Hanya apabila mereka mengalami sesuatu hal yang menyenangkan mereka mau bersyukur.
