ASAL MULA KEMAKSIATAN DAN KETAATAN.
”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
اَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ اَلرِّضَـا عَنِ اَلنَّفْسِ وَاَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقْظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ اَلرِّضَـا مِنْكَ عَنْهَـا.
"Asal dari semua maksiat, lupa kepada Allah dan rela menuruti syahwat yang datangnya dari hawa nafsu. Dan asal dari setiap ketaatan, kesadaran dan menjaga diri dari syahwat itu tidak ada kerelaan darimu dalam menuruti hawa nafsu."
Menurut para ahli makrifat, bahwasanya asal mula timbulnya kemaksiatan yang dilakukan seseorang itu adalah karena mereka berpaling dari Allah dan menurutkan kehendak hawa nafsu. Padahal sebenarnya kalau manusia itu mau berfikir dengan hati dan akal yang sehat, niscaya dia akan tahu bahwa nafsu yang tidak terkendali selalu akan menyeret manusia ke dalam jurang kehancuran, kebinasaan dan juga kehinaan.
Namun demikian, tidaklah bijak kalau nafsu itu kita lenyapkan begitu saja. Karena pada dasarnya, nafsu itulah yang mendorong manusia ke arah kemajuan. Dan dalam hal ini nafsu tersebut terbagi menjadi dua macam, yakni:
- Nafsu Ammaroh, yaitu nafsu yang cenderung untuk berbuat keburukkan dan kejahatan. Perhatikan firman Allah dalam Al Qur'an surat Yusuf ayat 53, yang artinya: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
- Nafsu Mutmainnah, yaitu nafsu yang tenang dan dapat dikendalikan, sehingga tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat kejahatan atau kemaksiatan. Perhatikan firman Allah dalam AlQur'an surat Al Fajr ayat 27-28, yang artinya: "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku."
Adapun nafsu Ammaroh itu masih terbagi lagi menjadi enam macam, yakni:
- Syahwat, yang harus diatasi dengan jalan mengerjakan amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
- Amarah, yang harus diatasi dengan sifat sabar.
- Thama', yang harus diatasi dengan sifat qana'ah.
- Takabbur atau sombong, yang harus diatasi dengan sifat tawadhu'.
- Riya' yang harus diatasi dengan sifat ikhlas.
- Dengki, yang harus diatasi dengan sifat pasrah dalam menerima apa yang sudah menjadi bagiannya.
Ke-enam sifat buruk yang menjadi cabang dari nafsu amaroh tadi haruslah diperangi dan diatasi dengan cara menanam sifat-sifat baik sebagaimana yang tersebut diatas yang sebenarnya merupakan cabang dari nafsu muthmainah.
