TIGA MACAM CAHAYA YANG DIKARUNIAKAN ALLAH KEPADA HAMBANYA.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
شُعَاعُ اْلبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ وَعَيْنُ اْلبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ عَدَ مَكَ لِوُجُوْدِهِ وَحَقُّ اْلبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُوْدَهُ لَاعَدَ مَكَ وَلَا وُجُوْدَكَ.
“Cahaya bashiroh itu menyaksikanmu betapa dekatnya Allah dari padamu, dan 'ainul bashiroh menyaksikanmu akan ketiadaanmu karena wujud-Nya. Serta haqqul bashiroh menyaksikan akan wujud-Nya, tidak pada ketiadaanmu dan tidak pula pada wujudmu“.
Ada tiga macam cahaya yang merupakan bekal bagi manusia untuk dapat mengetahui dan dan mensifati tentang wujud Allah. ketiga macam cahaya tersebut adalah:
- Syu'aa'ul Bashiiroh.
Yakni dengan akalnya, manusia dapat mengetahui akan hakekat dirinya dan mengerti bahwa Allah itu dekat dengannya. - 'Ainul Bashiiroh,
Yakni dengan ilmunya, manusia dapat mengetahui bahwa dirinya itu sama sekali tidak ada di dalam wujudnya Allah. - Haqqul Bashiiroh,
Yakni dengan kesaksiannya, manusia bisa mengetahui bahwa dirinya yang semula tidak ada kemudian menjadi ada, kemudian menjadi tidak ada lagi, sama sekali tidak bisa disamakan dengan adanya Allah yang tiada berawal dan tiada berakhir.
Dengan ketiga macam cahaya itulah manusia dapat mengetahui dan mensifati tentang wujud Allah.
