Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

PENGERTIAN MA'RIFAT.





”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Menurut ahli bahasa, kata ma'rifat berarti mengetahui atau mengenal. Pengertian tersebut bisa diperluas lagi menjadi: cara mengetahui atau mengenal Allah melalui tanda-tanda kekuasaan_Nya yang berupa makhluq-makhluq ciptaan_Nya. Sebab dengan hanya memperhatikan tanda-tanda kekuasaan_Nya kita bisa mengetahui akan keberadaan dan kebesaran Allah Swt. Kita tentu yakin dan faham betul, bahwa tidak ada satu makhluqpun, walau sekecil atau sebesar apapun, yang ada dengan sendirinya. Semuanya itu pasti ada yang menciptakan. Dan siapa lagi yang menciptakan segala macam makhluq tersebut kalau bukan Allah?

Tanda-tanda tentang adanya Allah sudah jelas terlihat di sekeliling kita. Setiap hari kita bisa melihat terbitnya matahari dari ufuk timur dan kemudian tenggelam di ufuk barat. Satu kali pun tidak pernah terbalik. Kita juga bisa melihat betapa indahnya bulan begitu gemerlapnya bintang-bintang yang bertaburan di malam hari. Semua itu yang menciptakan dan mengatur peredarannya adalah Allah. Siapa yang tak mengenal Allah lewat tanda-tanda kekuasaan-Nya, ia adalah sebuta-buta manusia. Bukan buta matanya, akan tetapi buta hatinya. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah berikut ini:

فَاِنَّهَا لَاتَعْمَى اْلاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْــمَى اْلقُلُوْبُ اْلَتِىْ فِىْ اّلصُّدُوْرِ .

Artinya: ”Sesungguhnya bukan matanya yang buta, tapi mata hatinyalah (yang buta) yang berada dalam rongga dadanya”.

Adapun cara memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang berupa makhluq-makhluq_Nya tersebut bukanlah sekedar dengan menggunakan penglihatan lahir saja. Tetapi harus pula ditunjang dengan penglihatan mata batin (hati) yang jernih dan bersih dari berbagai macam dosa. Perhatikanlah sabda Rasulullah Saw. kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari berikut ini:

يَااَبَاذَرِّ اعْبُدِ اللّٰهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ فَاِنْ كُنْتَ لَاتَرَاهُ فَاِنَّهُ يَرَاكٕ.

Artinya: ”Wahai Abu Dzar, Sembahlah Allah, seakan-akan kamu melihat_Nya. Bila kamu tidak melihat Allah, maka yakinkan (dalam hatimu) bahwa Allah melihat kamu.”

Pembaca, buta mata belum tentu membawa bencana. Tetapi buta hati, sudah pasti akan mendatangkan siksa. Karena apabila manusia sudah menderita penyakit buta hati, selama ia belum mendapat cahaya Ilahi yang berupa petunjuk-petunjuk kebenaran, maka selama itu pula ia akan tersesat jalannya. Bukan jalan menuju syurga yang ia tempuh, melainkan jalan ke neraka. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur'an surat Al Isra' ayat 72 yang berbunyi seperti berikut ini:

وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖۤ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا

"Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar)." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 72)

Sesudah kita mengenal dan mengetahui akan keberadaan Allah, apakah lantas pengenalan dan pengetahuan kita tersebut berhenti sampai di situ saja? Tentu saja tidak. Akan tetapi lebih daripada itu, kita sebagai hamba_Nya dan sebagai salah satu makhluq ciptaan_Nya, maka sudah sepatutnya apabila kita senantiasa mengabdikan diri secara bulat dan utuh semata-mata demi mengharapkan keridhaan_Nya.

Salah satu tanda bagi orang yang berma'rifat kepada Allah adalah, bahwa ia senantiasa bersandar dan berserah diri kepada Allah semata. Apapun yang telah dan akan terjadi pada dirinya, selalu diterima dengan baik. Apabila ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur. Apabila mendapat musibah, ia terima cobaan itu dengan sabar. Orang yang demikian ini percaya, bahwa semua itu datangnya dari Allah untuk kebaikan dirinya. Sebab tidak ada sesuatupun yang terjadi di dunia ini, kecuali ada manfaat atau hikmah di balik peristiwa tersebut.

Selain itu, orang yang berma'rifat kepada Allah tidak pernah menyombongkan diri. Sebagai makhluq yang lemah dan tanpa daya, manusia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas pertolongan dan izin dari Allah Yang Maha Perkasa. Karena itu ia pun selalu mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada_Nya guna mendapatkan pertolongan, perlindungan dan karunia dari_Nya. Sedang apapun yang dapat menghalangi jalannya untuk bertaqarrub kepada Allah Swt. ia singkirkan jauh-jauh dari lubuk hatinya, seperti sifat serakah kepada dunia, kikir, sombong, riya', dan berbagai sifat tercela lainnya.

Menurut seorang ahli ma'rifat terkenal bernama Al Junaid, bahwa seorang belum bisa disebut sebagai ahli ma'rifat sebelum dirinya mempunyai sifat-sifat:

  • Mengenal Allah secara mendalam, hingga seakan-akan dapat berhubungan secara langsung dengan_Nya.

  • Dalam beramal selalu berpedoman kepada petunjuk-petunjuk Rasulullah Saw. (Al-Hadits).

  • Berserah diri kepada Allah dalam hal mengendalikan hawa nafsunya.

  • Merasa dirinya adalah kepunyaan Allah dan kelak pasti akan kembali kepada_Nya.

Adapun menurut Imam Al Ghazali sebagaimana yang ditulis dalam kitab Ihya 'Ulumuddin, di situ disebutkan bahwa ada empat hal yang harus dikenal dan kemudian dipelajari oleh seseorang yang berma'rifat kepada Allah. Keempat hal tersebut adalah:

  1. Mengenal siapa dirinya.

  2. Mengenal siapa Tuhannya.

  3. Mengenal Dunianya.

  4. Mengenal Akherat.

🙏

Nabi Muhammad saw. bersabda: ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR. Muslim)